Wednesday, January 15, 2014

La Mémoire Bleue

Title                 : La Mémoire Bleue
Author             : Me
Genre              : Family, Hurt
Rating                         : T
Type                : Oneshoot
Disclaimer       : I own Yuto and Marius #plak2
Cast                 : Amai Ai (OC) X Nakajima Yuto
  Sho Sakurai
  Nakajima”s Family
Note                : Italic untuk Flashback dan pikiran sang tokoh.

Ais POV
“Anda bercanda kan?” sekali lagi aku mempertanyakan diagnosa seorang dokter muda dihadapanku ini.

“Saya harap begitu. Tapi dari uji amino yang kami lakukan, calon bayi Anda positif mengidap kelainan jantung yang disebut atrioventricular canal defect. Kelainan ini membuat jantungnya tidak berfungsi. Kemungkinan besar ia akan lahir dalam keadaan tak bernyawa. Jika ia selamat, kegagalan jantung akan segera menyusul.”


Aku mencerna sedikit demi sedikit apa yang ia katakan. Aku tahu maksud dokter itu. Anakku akan kesulitan untuk bertahan hidup. Walaupun begitu, aku tak akan menyerah selama masih ada harapan. “Tapi ia masih bisa selamat kan, Dok?”

“Kondisinya bisa dinyatakan cukup baik setelah ia sukses melewati operasi jantung terbuka di usia 6 bulan.” Penjelasan ini membuatku sedikit lega. Yosh! Calon bayiku, mari kita berjuang bersama.

“Saat ini usia kehamilan Anda masih muda. Janin Anda juga belum berkembang sepenuhnya. Belum terlambat untuk menggugurkan kandungan anda.”

Dokter macam apa dia? “Jangan main-main, Dok! Saya tidak mau mengambil kehidupan bayi yang tidak berdosa ini!”

“Pikirkanlah baik-baik. Jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari.”

Aku beranjak meninggalkan dokter ini. Aku berani bertaruh ia belum pernah mengandung. Jika ia tahu bagaimana rasanya mengandung, aku yakin ia tidak akan pernah sedikit pun berpikir sebrutal itu.

Sesampainya di rumah kubaringkan tubuh ini di tempat tidur. Kulihat sekali lagi foto hasil USG. Semua penat dan letih menguap seketika. “Uh, bayiku yang tampan…”
~~~

Flashback on
“Aku nggak sabar untuk ketemu mereka.” Kataku pada laki-laki disampingku.

“Sebentar lagi kita sampai, Sayang.”

“Bolehkah aku memanggil mereka Otoo-san dan Okaa-san?”

“Tentu saja, aku dan Raiya tidak keberatan untuk membagi mereka denganmu.” Ia tersenyum lembut kepadaku. Ah~~~ aku merindukan senyuman itu.

Tak lama kemudian, kami sampai di kediaman Nakajima. Walaupun sudah setengah tahun aku menikah dengan Yuto, belum pernah sekali pun aku bertemu dengan orang tuanya. Itu karena kami menikah di Prancis dan Yuto enggan menghubungi mereka. “Aku ingin memberi mereka sebuah kejutan”, katanya.

“Otoo-san, Okaa-san, Raiya, ini istriku.” Yuto memperkenalkanku pada keluarganya.

Aku memberikan senyuman terbaikku dan menatap mereka satu per satu. “Watashi wa Amai Ai desu. Yoroshiku…”

“Keluar kamu dari sini!” Okaa-san berteriak memotong perkenalanku.

“Okaa-san!” dengan sigap Yuto berdiri di antara aku dan Okaa-san, mencoba melindungiku dari apa pun yang mungkin terjadi.

Wajah Okaa-san memerah, matanya mendelik marah, dan tubuhnya menegang. Seketika aku sadar. Aku tidak akan pernah diterima di rumah ini. “Dasar anak pelacur! Tinggalkan rumah ini!”

Napasku tercekat. Memang selama ini aku menggunakan marga ibuku, tapi bukan itu alasannya. Ingin kusemburkan alasanku padanya, sayangnya ini bukan waktu yang tepat.

“PERGI! PERGI!!!” Okaa-san berteriak lebih histeris. Otoo-san dan Raiya mulai kewalahan menahannya. Perasaanku makin tak enak.

“I”ll take my leave.” Putusku. Kutundukkan kepalaku untuk penghormatan terakhirku pada mereka. Kemudian aku beranjak pergi. Tapi tangan kukuh itu menahanku untuk tetap di tempat. Tangan kukuh yang tak bisa kugenggam lagi…
Flashback off
~~~

“Anda sudah pulang Ai-sama.” Suara itu membawaku kembali ke masa sekarang.

“Kau mengagetkanku Sho-san!” laki-laki bertuxedo ini adalah butlerku. Namanya Sho Sakurai. Untuk orang berusia 43 tahun, ia punya kebiasaan yang unik. Membaca komik. Tapi justru karena itu aku menjadikan ia orang kepercayaanku.

“Mite, Sho-san. Ini bayiku. Tampan bukan?” kataku sembari mengangsurkan foto yang kuperoleh dari rumah sakit.

Ia tersenyum muram, ekspresi yang tak kubayangkan. “Apakah Nona yakin untuk tetap mempertahankannya?”

Deg! Rasanya jantungku berhenti berdetak. Ia sudah tahu tentang apa yang akan terjadi. “Tentu saja!” tukasku tak senang.

“Jangan naïf, Nona! Tidak semua bayi yang terkena Sindrom Down tumbuh sehat, punya tubuh yang berfungsi dengan baik dan watak manis seperti Corky di film Life Goes On. Mohon Nona berpikir lagi.”

Sho-san aku tak percaya kau bisa sepesimis ini. Kutatap matanya tajam, “Bagaimana mungkin aku menghentikan detak sebuah jantung yang kulihat dengan jelas di layar monitor? Sebentuk jantung yang kukenal, bahkan kucintai? Sebentuk jantung yang menyimpan separuh jiwaku dan separuh jiwanya.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Ia terdiam cukup lama. “Maafkan saya, Nona. Tapi bukankah sebaiknya Nona mengabarkan berita baik ini pada keluarga Nakajima?”

Kuusap air mata yang belum sempat menetes. “Itu tidak mungkin. Aku tidak ingin mematahkan hati Okaa-san untuk kedua kalinya dengan kehadiranku. Dan kau, Sho-san! Jangan pernah sedikit pun kau dekati keluarga Nakajima! Kau tahu apa yang akan kulakukan jika kau melanggar perintahku yang satu ini kan?”

Sho-san adalah butler yang nekat. Tapi aku tahu, ia tidak akan melanggar perintah yang disertai ancamanku. Konsekuensinya terlalu berbahaya.

“Saya mengerti, Nona. Jadi, apa yang Anda inginkan untuk makan malam?”

“Sesuatu yang bisa memperkuat jantung anakku.”
~~~

Flashback on
Ketika orang bertanya tentang apa arti penderitaan, aku bisa menjawabnya dengan jelas. Penderitaan adalah masa-masa ketika aku tinggal di kediaman Nakajima.

Perlakuan Okaa-san membuatku serasa tinggal di neraka. Memang kami tidak tinggal serumah. Karena Okaa-san, aku dan Yuto harus tinggal di bekas gudang di belakang rumah. Tapi itu tak menghentikan Okaa-san untuk membuatku tak betah.

Tak pernah sekali pun bibir ini bercerita pada suamiku bagaimana rasanya. Tak pernah aku menceritakan betapa laparnya aku karena para pembantu dilarang mengirim supply makanan oleh Okaa-san. Betapa hausnya aku ketika Okaa-san memblokir aliran air minum. Betapa lelahnya aku ketika mencuci baju yang selalu dikotori Okaa-san setelah kujemur. Bahkan bukan sekali dua kali Okaa-san menghentikan aliran listrik saat Yuto sedang lembur. Membuatku harus menahan dinginnya malam.

Ketika aku menyampaikan keinginanku untuk pindah rumah Yuto hanya menjawab “Sudahlah Ai, aku yakin Okaa-san akan lelah sendiri”. Nyatanya? Sebulan, dua bulan, semusim, dua musim, Okaa-san tak pernah berhenti membuatku menderita. Usahaku untuk menaklukan hatinya tak pernah berhasil.

Akhirnya di suatu siang, Raiya mendatangiku. “Raiya! Apa yang kau lakukan disini? Okaa-san akan menghukummu jika ia tahu.”

“Otoo-san dan Okaa-san sedang tidak ada di rumah. Ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu Nee-san. Jadi, bolehkah aku masuk?”

Khawatir ada yang melihat, aku segera membuka pintu dan membiarkan adik iparku masuk. “Jadi apa yang membawamu kesini?” tanyaku setelah aku yakin Raiya tidak terlihat dari luar.

“Kau tahu mengapa Okaa-san sangat membencimu?” aku menggeleng lemah. “Ini semua gara-gara dia.” Raiya mengangsurkan sebuah foto.

“Ini... inikan foto…” aku menatap foto itu tak percaya. Foto Okaa-san bersama seorang gadis yang wajahnya mirip wajah ibuku.

“Bukan. Ini bukan Ibumu. Tapi bibimu, Amai Sakura. Okaa-san salah mengerti, jadi ia mengira kau anak Amai Sakura bukan anak Amai Sora.”

“Lalu, apakah Obaa-chan pernah berbuat salah pada Okaa-san?”

“Iya. Beberapa puluh tahun yang lalu, saat Okaa-san masih SMA. Bibimu adalah sahabat terdekatnya. Tapi ia mengkhianati Okaa-san dengan cara membawa kabur Jiji -Ayah Okaa-san-. Setelah kejadian itu, keluarga Okaa-san mulai berantakan. Sampai sekarang Okaa-san belum mampu memaafkan bibimu.”

“Kalau begitu kita hanya harus memberitahu Okaa-san.” Sepercik harapan mulai muncul.

“Jangan lakukan itu, Nee-san! Ia tak mungkin percaya sebelum kau menghadirkan Amai Sakura dan Amai Sora dihadapannya.”

“Itu tidak mungkin, ibuku… dia… sudah meninggal sejak lama.”

“Karena itu, aku bilang percuma.”

“Haruskah aku menyerah, Raiya?” kupandang adik iparku sendu.

“Itu terserah Nee-san.”

Aku berpikir sejenak. Kupertimbangkan semua resiko yang akan kuterima. Dan akhirnya kumantapkan niatku. “Maukah kau membantuku, Raiya?”

“Un.”
~~~

From : Raiya
Nee-san, ini waktu yang tepat.

Raiya benar, semua orang sudah tidur. Dan Yuto baru saja berangkat ke Prancis untuk mengurus beberapa hal di sana.

To : Raiya
Hai, aku siap.

Kutatap rumah tempat aku menghabiskan hari bersama Yuto untuk terakhir kalinya. Dengan mantap aku membalikkan tubuhku dan mengendap-ngendap ke gerbang belakang. Dimana tidak ada penjaga maupun CCTV.

“Nee-san!” Raiya tiba-tiba berada disampingku. Dan membuatku teringat pada sesuatu yang penting.

“Tolong berikan ini pada Yuto.” Kataku sembari mengangsurkan sebuah surat. Surat perpisahan yang kutulis dengan air mata.

“Hai! Nee-san, Okaa-san ada di gerbang belakang.” Bisiknya.

“Itu bukan masalah. Okaa-san tak akan menghalangiku. Ini adalah malam yang ditunggu-tunggunya. Sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu. Jangan lupa berikan surat itu pada Yuto. Arigatou, Raiya.”

“Doita” ia menghilang di balik kegelapan.

Sekarang saatnya menghadapai Okaa-san. Persis seperti yang kuduga, Okaa-san berdiri di depan gerbang belakang yang terbuka. Berdiri dengan senyum penuh kemenangan.

“Okaa-san, terima kasih atas segalanya.”

“Cukup basa-basinya! Cepat pergi!”

“Hai. I”ll take my leave.” Aku menunduk sebagai tanda penghormatan terakhir.

“Get lost! Don”t ever lay your hands at Nakajima family!”
Flashback off
~~~

“Nona, kita sudah sampai.” suara Sho-san membangunkanku. Lagi-lagi mimpi tentang perginya aku dari rumah itu menghantuiku. Hmm biarlah, aku sudah tak peduli lagi sekarang. Tapi tak bisa kupungkiri kalau aku masih merindukannya…

“Arigatou, Sho-san. Bisakah kau menungguku untuk beberapa saat?”

“Hai, Nona.”

Aku kembali menapaki lorong-lorong putih berbau obat. Tempat yang kubenci, karena mereka terus menerus memaksaku untuk membunuh bayiku. Walaupun begitu, aku selalu kembali kesini setiap bulannya untuk mengecek keadaan bayiku.

“Saya harap Anda tidak menyesal. Sekarang sudah terlalu terlambat untuk menggugurkan kandungan Anda.” Bagus, dengan begini kalian akan berhenti menjejaliku dengan ide jahat kalian. “Saya sarankan Anda memiliki sebuah stetoskop. Jadi, Anda bisa mengecek detak jantung bayi Anda setiap waktu.”

“Itu saja?” aku mulai membenci tatapan penuh belas kasihnya.

“Ya, itu saja.”

“Baiklah. Selamat siang.”

Ketika aku keluar dari rumah sakit, kulihat Sho-san sudah siap membawaku pulang. “Sho-san, maukah kau membawaku ke Taman Ashikaga?”

“Tapi, Nona. Ini bukan bulan Mei. Nona akan kecewa jika kesana, karena tidak ada bunga yang mekar.”

“Aku kesana bukan untuk melihat bunga. Aku ingin berziarah ke makam Okaa-chan dan Otoo-chan.”

“Baiklah.”
~~~

Flashback on
“Ai, lihatlah!”

“Sugoi…” ini pertama kalinya Yuto membawaku ke Taman Ashikaga. Aku memang pernah ke taman ini, tapi di siang hari. Jadi aku tidak sempat melihat pemandangan malamnya yang sangat indah.

“Kireina?”

“Hai, sepertinya surga berpindah ke sini.”

Kemudian ia menggenggam tanganku, mengajakku menjauhi keramaian. Ia menatap kedua mataku dengan lembut seperti biasanya. “Ai, aku tahu ini memang berat. Akan tetapi, aku percaya kau bisa melunakkan hati Okaa-san. Mari kita berjuang bersama!”

“Un.” Ia meraihku ke dalam dekapannya yang damai dan penuh kehangatan. Kehangatan yang selalu kudambakan di malam-malamku yang dingin.
Flashback off
~~~

Kutatap kedua makam dihadapanku. Makam yang dinaungi oleh bunga fuji. Disnilah Otoo-chan melamar Okaa-chan. Dan tempat inilah yang mereka pilih sebagai peristirahatan terakhir bagi tubuh mereka.

“Otoo-chan, Okaa-chan, bagaimana kabar kalian? Aku harap kalian sekarang sedang bersenang-senang di surga sambil mengawasi kami.” Kusentuh pusara mereka penuh kerinduan. Tak terasa, mereka sudah meninggalkanku selama 10 tahun.

“Otoo-chan, Okaa-chan, aku kesini bersama cucu kalian.” Kuusap perutku yang mulai membengkak. “Jika perkiraan para dokter benar, ia akan lahir 3 bulan lagi. Aku mohon jagalah kami dari surga, sehingga ia mampu bertahan melewati semua ini.”

“Nona, sudah waktunya pulang. Udara malam tidak bagus untuk kesehatan Nona.”

“Sebentar lagi Sho-san. Otoo-chan, Okaa-chan, aku pulang dulu. Jangan lupa untuk selalu mengawasi dan menjaga kami. Itekimasu.”
~~~

Flashback on
Hari ini adalah ulang tahun Raiya. Selama ini dia selalu baik kepadaku, jadi tak ada salahnya jika kau memberinya sedikit kejutan bukan? Itulah alasan atas tindakanku sekarang. Masuk ke dalam mansion utama. Aku harap Okaa-san tidak menghadangku.

“Buat apa kamu kesini?”

“Eh, Okaa-san. Aku hanya ingin memberikan ini pada Raiya.” Aku menunjukkan kotak yang sudah kubungkus dengan rapi padanya.

“Aku tahu maksudmu sebenarnya. Kau ingin mengambil hati Raiya kan? Agar dia mendukungmu dan berbalik menentangku?”

Aku hanya terdiam mendengar ini. Tak dapat kupercaya ia bisa berpikiran sepicik itu. “Okaa-san, bisakah kita akhiri ini? Aku sudah lelah dengan semua pertengkaran tak berguna ini.”

“Pertama, kau akan buat Yuto tunduk padamu, lalu Raiya, dan yang terakhir Otoo-san. Kemudian kau akan menyingkirkanku dan menguasai seluruh kekayaan keluarga Nakajima. Iya kan?” ia mulai mengeluarkan salah satu argument favoritnya.

“Tapi Okaa-san---”

“Alih-alih mencintai Yuto, kau lebih menginginkan kekayaannya.”

“Okaa---”

“Jangan kau kira kau bisa menipuku.”

Aku sudah muak! Saatnya untuk pergi.

“Huh! Melarikan diri ya?”

“Sebelumnya saya minta maaf karena telah mengganggu ketentraman Okaa-san.” Aku menunduk dalam-dalam dihadapan ibu baruku ini. “Asal Okaa-san tahu, saya tidak tertarik sedikit pun pada kekayaan keluarga Nakajima. Dan saya tidak peduli apakah Yuto membawa saya ke mansion semegah milik keluarga Nakajima, atau ke gubuk paling reyot di pinggiran Tokyo. Saya akan tetap mengikutinya kemana pun ia pergi. Karena dia adalah suami saya.”

“Simpan mulut manismu itu!”

Plak
Flashback off
~~~

Aku terbangun dari tidurku. Lagi-lagi aku bermimpi buruk. Entah mengapa akhir-akhir ini episode kelam kehidupanku di kediaman Nakajima selalu berputar di kepalaku.

“Aduh!” perutku terasa mulas. Usia kehamilanku memang sudah cukup tua. Apakah ini artinya… “Sho-san! Cepat siapkan mobil!”

Tertatih-tatih aku berjalan ke mobil dibantu oleh Sho-san. Kemudian ia melaju ke rumah sakit seperti pembalap kesetanan. Sedikit iseng aku melirik speedometer. 200 km/h!!! Dia berniat untuk membunuhku!

“Sho-san, pelan-pelan saja. 100 km/h sudah cukup.”

“Nona! Kita harus sampai di rumah sakit secepat mungkin! Anda tidak ingin bayi Anda lahir di sini bukan?”

“Tapi, Kya!!!” Sho-san menambah kecepatan. Bisa-bisa aku melahirkan disini karena terlalu ketakutan.

Plash! Dukudukkuduk.

Kurasakan ada sesuatu yang meledak. Kemudian mobil yang kami tumpangi berputar beberapa kali. Membuat sensasi mual sekaligus pusing menyerbu.

“Ai-sama, ban mobil kita meledak.” Sho-san menunjukkan wajah paniknya untuk yang pertama kali. “Saya akan berusaha mencari tumpangan.” Lanjutnya.

‘Kami-sama onegaishimasu… Biarkan kami sampai di rumah sakit dengan selamat!’ Batinku penuh harap.
`
`
`

Perutku terasa makin sakit. Walaupun sedari tadi aku mengikuti instruksi para dokter dan suster yang tak berhenti diteriakkan ditelingaku, bayiku belum juga keluar.

“Sekali lagi…”

“Ehh…” kukerahkan semua tenaga yang kumiliki.

“Belum membuka juga. Sepertinya kita harus melakukan operasi.”

Rasanya aku ingin pingsan, tak ada energy yang tersisa untuk mempertahankan kesadaranku. Mau dipacu atau dioperasi, terserahlah. Yang penting bayiku bisa lahir dengan selamat.

Tiba-tiba sebuah kenangan tentangnya mampir di benakku. Menghadirkan sebuah visualisasi masa lalu. Ia menggandeng tanganku dan menarikku untuk berlari bersamanya. Walaupun aku sudah lelah, senyumannya membuat kakiku terus berlari. Senyumannya memberiku kekuatan untuk berjuang lagi. Senyumannya…

“Terus nyonya, terus…”

“Kepalanya sudah terlihat,

Kepalanya sudah keluar, aduh ia tampan sekali.

Badannya…

Kakinya…

Semua sudah keluar. Banzai!”

Aku menghembuskan napas lega. Tapi mana suara tangisan bayiku? Mengapa dia tidak menangis? Kenapa wajah paramedic disekelilingku pucat dan muram? Apa yang terjadi???

Kegelapan yang pekat mulai memenuhi duniaku.
~~~

5 years later…

Author”s POV
Seorang wanita sedang duduk di atas kursi putarnya. Dilihat dari posisi duduk dan raut wajahnya, ia sedang serius. Jika diamati dari penampilannya, ia pasti salah seorang yang penting di gedung pencakar langit ini. “Ai-sama.” Seseorang bertuxedo mengganggu konsentrasinya, tapi tampaknya ia tak keberatan.

“Ada apa Sho-san?”

“Mereka sudah datang.”

“Suruh mereka masuk!” wanita itu memutar kursinya menghadap jendela, yang sekaligus membelakangi tamunya.

Sho menunduk hormat dan membukakan pintu. “Silahkan duduk.” Katanya menyuruh kedua tamunya untuk duduk di sofa yang telah disediakan.

“Ceritakan maksud kalian. Langsung pada permasalahannya, karena aku tidak punya banyak waktu.”

“Perusahaan kami sudah berada di ambang kehancuran. Sehingga kami harap, kami bisa bergabung dengan Yamada group untuk menyelamatkannya.”

“Jadi, Nakajima Group ingin bergabung dengan Yamada group?” wanita itu berdiri dan berjalan untuk menyapa kedua tamunya.

“A…A..Ai?!” rasa kaget mengguncang kedua tamu itu.

“Okaa-san, Otoo-san, ohisashiiburi.” Dengan manis Ai menyapa kedua mertuanya.

“Bagaimana mungkin?”

“Ini semua sudah tertulis di suratan takdir. Ibuku, Amai Sora ditakdirkan untuk menikah dengan Yamada Ryosuke, pewaris terakhir Yamada group sebelum aku. Sayangnya, mereka meninggal 15 tahun yang lalu. Oleh karena itu sebagai pewaris tunggal, aku harus memikul sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Memimpin Yamada group. Dan seperti yang tertulis di suratan takdir, aku bisa bertemu dengan kalian sekarang.”

Kenyataan ini membuat kedua mertuanya shock berat, terutama sang Ibu. Tanpa menunggu, ia bersimpuh di hadapan Ai. Menyuarakan permintaan maafnya. “Ai, maafkan sikapku selama ini.”

Dengan lembut Ai memegang bahu Ibu mertuanya dan mengajaknya untuk duduk disebelahnya. “Aku sudah memaafkan Okaa-san. Bahkan sedari dulu, tak pernah sedikit pun aku mendendam pada Okaa-sanNgomong-ngomong, bagaimana kabar Yuto sekarang?”

Pertanyaan ini membuat Otoo-san dan Okaa-san membeku.
~~~

Ai”s POV
Kupandangi sekali lagi bayanganku di cermin. Kumantapkan hatiku. Malam ini aku akan mengunjungi keluarga Nakajima, seperti permintaan Okaa-san. Aku tidak tidah tahu apa yang menungguku. Tapi apa pun itu, aku siap.

“Okaa-chan mau kemana?” Tanya Marius dengan suara cadelnya yang menggemaskan.

Yup, Marius adalah anakku yang kupertahankan mati-matian. Untunglah kekuatan kami berdua -dan dengan dukungan dari banyak orang- mampu mengalahkan Sindrom Down. Sehingga ia bisa tumbuh dengan baik.

“Aku ikut ya?” tanyanya lagi.

“Okaa-chan mau ketemu seseorang.”

“Iku…t” pintanya memelas.

“Nggak usah, ini udah malem. Kamu main sama Sho-san aja. Katanya dia udah beli Naruto jilid terakhir.”

“Ya udah deh. Tapi, besok pagi Okaa-chan harus nganter Mari yah?”

Un.”

“Janji?”

“Janji!”

“Hati-hati Okaa-chan!” Marius pun berlari ke arah Sho-san.”

“Aku titip Mari-chan, Sho-san?”

Hai! Hati-hati, Ai-sama.”
~~~

Tanpa kusadari, aku sudah melangkahkan kaki ke mansion Nakajima. Kuraih logam berat pengetuk pintu,

Tok…tok..tok…

Kriet…

Pintu berat berbahan kayu cendana itu terbuka. Menampakkan sosok berwajah sedih yang ada di baliknya.

Konbanwa.”

Konbanwa. Masuklah, Nak.”

“Baik, Otoo-san. Ohisashiiburi, Raiya.”

“Yo!” jawabnya singkat.

Okaa-san menggandengku dan mempersilahkan aku untuk duduk disampingnya.

“Okaa-san, bisakah Okaa-san bercerita tentang apa yang terjadi setelah kepergianku?”

Okaa-san menelan ludah pilu. Rasa bersalah selalu menelusupi mimpinya, menghantui hari-harinya. Karena semua tragedy ini dimulai akibat dari perbuatannya.

Flashback on
“Semua hal yang berhubungan dengan Amai Ai harus lenyap tanpa sisa! Mengerti?” Okaa-san memimpin semua pembantu untuk berkerja sama dalam proyek penghapusan jejak Amai Ai.

“Iya, nyonya.” Dengan patuh para pembantu mencari dan melenyapkan barang-barang Ai. Tak terkecuali surat perpisahan yang mereka temukan di kamar Raiya.

Ketika Yuto pulang, bekas-bekas kehidupan Ai sudah hilang tanpa sisa. “Dimana Ai?” Tanya Yuto pada Okaa-san.

“Tidak ada yang bernama Ai disini.” Jawab Okaa-san dingin.

Yuto yang tak puas dengan jawaban ini, memburu adiknya. “Raiya! Dimana Ai?”

“Onee-san sudah pergi. Sayangnya aku tak bisa menyelamatkan surat yang diberikan Onee-san untukmu.”

Dengan frustasi, Yuto keluar rumah. “Aku harus menemukan Ai secepat mungkin.”

“Yuto! Mau kemana kau?” okaa-san kaget melihat anaknya yang baru pulang langsung pergi lagi.

“Aku harus mencari Ai.” Jawabnya singkat.

Dengan murka Okaa-san mengerahkan seluruh pembantunya untuk menangkap Yuto dan mengurungnya.
`
`
`
“Okaa-san, sudah sebulan lamanya kita mengurung Yuto. Bukankah ini berlebihan?”

“Kau benar Otoo-san, mungkin sekarang saatnya ia keluar.” Okaa-san berjalan ke kamar Yuto -kamar yang dulu ditempatinya bersama Ai-, sambil membawa kunci.

Ckrek.. ckrek…

Pintu yang terkunci sedemikian pun terbuka. Sayang seribu sayang, yang mereka dapati dibalik pintu yang terbuka bukanlah yang mereka harapkan. Mereka hanya mendapati sebagian hal yang tersisa dari Nakajima Yuto. Sebuah raga tanpa jiwa.

Flashback off

Okaa-san mengakhiri ceritanya dengan linangan air mata. Aku hanya mengangguk maklum. Semua yang dialami suamiku, tergambar jelas dibenakku. “Raiya, tunjukkan dimana Yuto berada.”

Dengan patuh Raiya berdiri dan membimbingku ke tempat kakaknya berada. Ia membawaku ke rumah lama kami. Sebuah bekas gudang di belakang rumah Nakajima.

Sebelum membuka pintu, ia menatapku sekali lagi. “Kuharap kedatanganmu kemari, mampu menyembuhkannya.” Dapat kulihat dibalik ketegaran yang selalu dipertunjukannya di depan orang lain, tersembunyi sebuah kerinduan yang amat besar pada kakak sematawayangnya.

“Kita hanya bisa berharap bukan?” kataku tak yakin.

Aku melangkah ke dalam ruangan yang gelap gulita. Sinar bulan menyinarinya, tubuh rapuh yang selalu kurindukan.

“Yuto.” Kusapa ia dengan suara yang sama, yang pernah didengarnya bertahun-tahun silam. Tapi nampaknya suaraku tak mampu menjangkau jiwanya. Ia masih terus menunduk menatap sesuatu.

Aku melangkah mendekati sosok yang terdiam itu. Kusibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Wajah pucat dan kosong yang selalu melengkapi mimpi-mimpi indahku.

“Yuto…” kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku. Masih tak ada reaksi.

Ahh… aku menyerah. Kulepas pelukanku, kemudian aku duduk di sampingnya. Kupicingkan mataku untuk mengamati benda yang sedari tadi dipegangnya.

Itu adalah sebuah foto. Uhm… sepertinya aku pernah melihat wajah itu. Kuobrak-abrik memoriku untuk menemukan secuil petunjuk yang tersimpan di foto itu.

Itu adalah foto kencan terakhir kami di Prancis. Kami berpiknik di samping sebuah danau. Dan selesai makan, kami berduet menyanyikan sebuah lagu.

Sepercik harapan tumbuh. Kuharap cara ini berhasil. Lagu itu adalah harapan terakhirku. Kugenggam tangannya dan kusandarkan kepalaku pada bahunya. Kami-sama, kumohon bawalah dia kembali.
Hoshi ga mienai toki wa kyou no deai wo
When the stars are not visible, today”s meeting
Mune ni ukabe aruite ikou kono tokimeki wo
This throbbing will float in our chest and we continue walking
Koi ni yureru toki wa sunao ni narou
When love tends to sway, it probably becomes gentle
Horo nigaku mo yasashii kaze ga bokura wo hakonde kuraru, itsumademo
Look, when others are bitter what the gentle breeze carries, we always give you
~~~

Kubuka mataku. Uh, badanku kaku sekali, ini pasti gara-gara posisis tidurku yang tidak biasa. Sedikit takut, kulirik suamiku. Masih belum ada perubahan.

Ah~ it’s so depressing ne… baiklah, aku akan mencoba lagi nanti. Sekarang aku harus pulang. Marius pasti marah jika aku tak menepati janji.

Kucium keningnya dengan lembut, sebuah kebiasaan pagi yang sulit kuhilangkan. “Yuto, aku pergi dulu.”

Dengan berat hati kutinggalkan ayah Marius. Bagaimana pun aku masih punya urusan yang harus kutangani. Kuharap ketika aku kembali, keadaannya jauh lebih baik.

Belum sempat aku melangkahkan kaki, kurasakan sebuah kehangatan yang tak pernah letih kurindukan.
“Ai, jangan pergi lagi.”

#終わり#

No comments:

Post a Comment