Girl's POV
“Jadi, kenapa pipimu tak pernah
bersemu merah?” tanyanya sambil memainkan ujung rambutku.
Aku tahu, ia tak mempunyai
sedikit pun intensi romance dalam setiap aksinya. Ia hanya, oh, God, hanya
ingin menggodaku. Yang tampaknya tak akan ia akhiri sampai jejak merah sialan
itu berada di pipiku.
“Aku tumbuh di antara para
lelaki. Bertengkar, saling menggoda, banyak hal. Semua godaanmu, bukan lah hal yang baru.”
“Walaupun aku sedekat ini?” tiba-tiba wajahnya berada di hadapanku. Terpaut lima senti meter dari hidungku.
“Sedikit lagi kau mendekat, aku akan membunuhmu.” kataku dengan nada yang sangat dingin dan hampir datar.
Aku tak pernah menyukai ide dimana lelaki menyentuhku. Walaupun aku
menyukainya.
“Baiklah...” ia menjauh dan kembali tertarik pada ujung rambutku. Meliuk-liukkannya
dengan gerakan spiral. Matanya masih terpaku ke wajahku.
“Aku tak punya hormon yang bisa membuat pipiku bersemu. Maaf karena telah
mengecewakanmu. Tapi...” aku segera menutup mulutku. Kenapa kata itu terucap?
Aku harap ia tak mendengarnya. Enggan rasanya menjelaskan keanehan hormonku.
“Tapi?”
Sial! Ia mendengarnya. Kupalingkan wajahku dari tatapannya yang intens. “Telingaku
pernah memerah.” Hanya sekali seumur hidupku –dari yang kuingat, sih..— yaitu
ketika guruku menangkap basah aku yang sedang membuat surat cinta. Tepatnya
surat cinta untuk lelaki yang sama dengan lelaki dihadapanku.
Sebuah semangat baru muncul di matanya. Uh, inilah alasanku kenapa aku tak
mau menceritakannya. Di dalam otaknya pasti telah berkeliaran berbagai ide
untuk membuat telingaku memerah. Holy
crap!
No comments:
Post a Comment